Harapan Yang Tidak Mungkin (Bagian II)
(Manifesto Ideologi Hampa)
Al Qur’an Surat ke 4. An Nisaa'
120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
Jika seorang manusia sudah merasa establish (serba cukup, serba mapan), syaitan akan datang membuat kalalaian untuk tetap stagnan. Secara naluri selalu menghindari friksi dan konflik, serta sedikit oportunis. Bagaimana syaitan memberikan kelalaian pada manusia seperti ini, dia memberikan janji dengan hembusan bisikan yang penuh angan-angan, dan yang paling berbahaya dalam kondisi ini adalah, bahwa mereka demi mempertahankan area rasa amannya itu, mereka membaurkannya. Menyampuradukan yang haq dengan yang batil, melalui tafsir-tafsir kontemporer yang keluar dari pemahaman Rosulullah, para Sahabat, atau para Tabi’in.
Paradigma yang paling rusak dan menghancurkan seluruh sendi-sendi syariat keislaman adalah pemahaman tentang pemisahan ideology gerakan dan ideology politik didalam aqidah. Dimana didalam manifesto aqidah tidak terdapat apa yang disebut manifesto gerakan dan manifesto politik. Memisahkan antara Islam dan Politik. Memisahkan antara Islam dan Gerakan Perubahan. Memisahkan antara Islam dan Hukum. Memisahkan antara Islam dan Negara.
Akan terlepas (kelak) ikatan (kekuatan) Islam, ikatan demi ikatan. Setiap kali terlepas satu ikatan maka orang-orang akan berpegangan kepada yang lainnya. Yang pertama kali terlepas ialah hukum dan yang terakhir adalah shalat. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
Terdapat tiga pemahaman manifesto dari ideology gerakan yang mempunyai paradigm keluar dari ideologi gerakan Rosulullah. Para penganutnya mempunyai keyakinan hampa dengan tidak mempunyai target Revolusioner. Meskipun secara logika politik mereka jelas tidak akan mencapai kemenangan, akan tetapi dengan menggadaikan beberapa ayat yang ditafsirkan dengan sedikit pemaksaan, mereka merasa nyaman didalam keyakinannya. Diantaranya adalah :
I Islam Menang Hanya Dengan Dakwah
(Mengkritisi Ormas-ormas Islam Republik dan Harokah non Politik)
Dakwah dan al Haq (Islam) adalah sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan. Tidak akan mungkin muncul komunitas yang meyakini Tauhid (Islam) tanpa ada seseorang yang melakukan tugas ini. Tidak ada satu Rusul pun yang tidak berdakwah, begitu pula Rosulullah Muhammad dan para pelanjutnya. Tetapi kemudian muncul keyakinan bahwa hanya dengan berdakwah Islam akan menang? Keyakinan seperti ini sudah masuk pada katagori berangan-angan. Keyakinan ini sudah keluar dari ranah syariat. Keyakinan ini sudah tidak logis dan tidak mungkin terealisasi.
Islam adalah The Way of Life, Jalan Hidup, dengan kata lain Ideologi (bedanya jika ideology biasanya muncul dari idea sesorang/manusia, sedangkan Islam adalah sebuah idea yang muncul dari Yang Maha Benar/al Haq). Allah mengistilahkan didalam Al Qur’an sebagai Ad Dien. Ad Dien merupakan sebuah keyakinan, Metodologi dari keyakinan tersebut, hingga bagaimana aplikasi dari keyakinan tadi. Aplikasi dari Ad Dien atau dengan istilah lainnya adalah manifesto ideology tidak akan selamanya mampu dilaksanakan oleh setiap muslim, dan kalau ternyata mampu dilaksanakan, belum tentu pelaksanaanya berjalan dengan benar. Rosulullah SAW diutus oleh Allah bukan hanya sebagai penyampai risalahnya saja, tapi juga sebagai Khalifah fii al Ard. Sebagai perwakilan kekuasaan Allah di Bumi, sehingga pada akhirnya Rosulullah mempersiapkan Yastrib untuk dijadikan Madinah, sebuah Negara Islam pertama di Bumi. Karena di Madinah lah Islam mampu mewujudkan Ad Dien secara Kaffah. Di Madinah lah pada akhirnya Islam bukan hanya sebagai keyakinan individual, tapi juga sebagai Political System yang mempunyai kekuatan mewujudkan keadilan Allah di muka bumi ini. Rosulullah di Madinah bukan hanya sebagai penyampai Risalah, tapi juga sebagai Penjaga Syariat Allah agar senantiasa Hukum-hukum Allah ini menjadi pelindung bagi umat manusia dalam setiap kehidupannya.
QS. 9: 112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
Dakwah hanyalah salah satu fungsi bagi seorang muslim dalam melaksanakan Ad Dien (sebagai penyampai risalah Allah) agar dikenal oleh manusia-manusia Jahiliyah (yang belum memahami Islam). Akan tetapi Dakwah tidak mempunyai kekuatan (powerless) untuk menegakan Ad Dien. Meskipun melalui Dakwah seluruh makhluk di Bumi ini baik Jin maupun Manusia kemudian memahami Ad Dien al Islam. Akan tetapi Islam belumlah muncul sebagai Ad Dien. Karena Ad Dien mampu menjadi tegak, hanyalah melalui kekuasaan (memfungsikan potensi manusia sebagai Khalifah fii al Ard), melalui kekuatan yang nyata.
QS. 42: 13. Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
QS. 8: 39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah[611] dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah[612]. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan
[611]. Maksudnya: gangguan-gangguan terhadap umat Islam dan agama Islam.
[612]. Maksudnya: Menurut An-Nasafi dan Al-Maraghi, tegaknya agama Islam dan sirnanya agama-agama yang batil.
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Isma'il bin Samurah], telah memberitakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] dari [`Asy'ats bin Sa'id] dari [Abdullah bin Busr] dari [Abu Rasyid] dari ['Ali], ia berkata; "Di tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tergenggam busur panah buatan orang Arab, kemudian beliau melihat seorang lelaki ditangannya busur panah buatan orang Persia, maka beliau bersabda: "Apa ini, lemparkanlah, dan kalian harus dengan yang ini dan yang serupa dengannya dan tombak-tombak yang bertangkai, karena dengan keduanya Allah akan menambah kekuatan kalian didalam menegakan agama dan menguasakan kepada kalian negeri-negeri." (HR Ibu Majah)
Keterangan: didalam hadits diatas Rosulullah menyatakan bahwa kekuatan (militer) dipergunakan untuk menegakan Dien.
Seandainya dengan mendirikan Ormas (Organisasi Massa) atau Yayasan Dakwah atau Lembaga-lembaga Dakwah lainnya berharap Islam akan tegak di Bumi Indonesia, mereka jelas sedang bermimpi dan dilalaikan oleh Syaitan. Mereka sedang mengejar Fatamorgana. Dan seandainya para ulama dan kader-kadernya berfikir bahwa Dakwah adalah sebagai hasil akhir dari Ibadah mereka sebagai penerus para Nabi. Mereka pada dasarnya sedang dibuai oleh penyakit yang paling berbahaya. Mereka sedang terkena wabah Wahn (Cinta Dunia dan Takut Mati). Mereka yang memahami betul ayat-ayat Allah, memahami betul Sirah Nubuwah, dan memahami betul resiko dalam meneruskan perjuangan para Nabi, mereka menolak resiko itu. Resiko dicampakan, disakiti, diboikot, dianiaya, difitnah, atau dibunuh. Mereka lebih memilih untuk menjadi pengikut artis-artis podium yang menikmati tepuk tangan dan decak kagum para audience, mereka menikmati lembaran kertas sebagai hasil dari menjual ayat-ayat Allah yang suci, mereka menjadi selebritis di tv-tv, dan para santri menjadikan mereka idola dan berharap menjadi penerusnya. Apakah Ad Dien akan tegak meski ribuan ayat telah mereka lantunkan? Jangan pernah berharap.
II Islam Menang Lewat Parpol dan Pemilu
(Mengkritisi gerakan-gerakan islam yang berkooperasi dengan Thoghut melalui Partai Politik)
QS.53. An Najm
23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.
24. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?
25. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.
Ayat-ayat diatas adalah ayat yang dinyatakan oleh Allah untuk musyrikin Qurais yang membuat syariat baru selain syariat yang diajarkan oleh Ibrahim tentang Islam. Orang Qurais membuat keyakinan baru (dengan dimunculkannya Latta, Uzza, dan Mannah) yang pada dasarnya adalah dibuat oleh hawa nafsu segelintir pemimpin-pemimpin mereka di masa lalu berdasarkan logika dan syak prasangka tak berdasar (atau meskipun mereka menyatakannya berdasarkan sesuatu, tetapi sesuatu itu tetap berasal dari syak prasangka sebelumnya, dan begitu seterusnya, tanpa ilmu yang haq dari Allah melalui Kitabullah atau SunaturRosul).
Allah menghina mereka dengan ‘halus’ melalui pertanyaan; “apakah manusia (yang bermain diatas logika dan syak prasangka) akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” apa yang dicita-citakan manusia-manusia tersebut? Mereka berharap kemenangan, berharap keselamatan umat, berharap keadilan dan kesejahteraan untuk rakyatnya. Dan bagi rakyat (yang mempunyai keyakinan seperti itu), harapan itu semua dilimpahkan untuk dirinya sendiri. Sebuah harapan menuju kemenangan di Dunia hingga Akhirat, menuju kebahagiaan di Dunia juga di Akhirat. Sekali lagi ditegaskan pada ayat tersebut “ apakah akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” tanpa berjalan diatas Fii Sabilillah, tanpa jalan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah, dengan mencampurkan syariat Ibrahim dengan syariat Syak Prasangka?
Allah menjawab sendiri pertanyaan yang tidak perlu jawaban tadi pada ayat berikutnya, “hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia”, Allah menjawab “tidak”, dengan kalimat pamungkas, kalimat yang menyatakan bahwa hanya syariat Allah saja lah yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang dicita-citakan secara naluri/alamiah yang muncul dari dalam diri kita secara fitrah, kehidupan bahagia di Dunia dan Akhirat.
Begitupulah sebuah Negara yang dibangun berdasarkan Logika dan Syak Prasangka (Ideologi ciptaan Manusia) meski dengan mencampurkan syariat Allah didalamnya, tapi kemudian mengkotorinya dengan akal budi manusia yang menyertakan hawa nafsu didalamnya, Negara tersebut tidak mungkin membawa rakyatnya kepada Mardhotillah. Dan ketika segelintir Pemimpin Islam dan Para Ulama menyatukan diri di dalamnya, mereka pada dasarnya terbawa kepada system jahil yang akan mengikat diri mereka seperti laba-laba membuat rumah,
QS. 29: 41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.
Mereka membentuk Partai Politik mencoba berlindung (dengan maksud memudahkan perjuangan Islam) dalam Negara Syak Prasangka yang didalamnya pada dasarnya tidak pantas untuk dimintai perlindungan, karena lemah, karena penuh dengan muslihat, penuh dengan kebijakan ganda, penuh dengan ketidak jelasan (mencampur adukan haq dan bathil), mereka (partai politik islam) telah merasa aman di jalurnya, dan merasa bahwa dengan menduduki parlemen melalui kemenangan partai mereka lewat pemilu berarti kemenangan Islam telah semakin dekat, kemenangan tinggal sejengkal lagi. Sungguh mereka telah menghabiskan infaq pengikut mereka hanya untuk ibadah yang sia-sia, mengabdikan diri kepada Thoghut (meski dengan alasan strategi dakwah) bersanding dengan mereka membuat kebijakan public, dan mereka berharap kemenangan dari itu semua? pemahaman mereka tidak jauh dengan musyrikin Qurais saat menggantungkan harapannya kepada Latta dan Uzza. Jauh panggang dari api. Harapan yang akan terputus ditengah jalan.
Hidup dari Infaq umat yang kemudian membawanya ke singgasana kekuasaan yang biasa diduduki para Fir’aun. Digaji dari Pajak dan Riba (keduanya diharamkan dalam Islam), ketika membuat undang-undang tidak satupun yang didasari Al Qur’an secara murni (karena bertentangan dengan Pancasila versi Soekarno yang sekuler), dan mereka tidak bakalan mampu merubah undang-undang yang bertentangan dengan Syariat Islam (karena pasti kalah suara dan bertentangan dengan Pancasila), kemudian mereka berharap setelah menemui kendala tersebut, berharap melalui harapan hampa, bahwa mereka akan menjadi Mayoritas di parlemen, kebodohan lainnya dari pemimpin Islam yang sudah genah di kursi empuk.
Dalam komunitas hipokrit di Republik, mereka layaknya seperti Bani Israil yang dengan sengaja menolak syariat Allah dengan berbagai alasan, kecuali sedikit diantara mereka,
QS. 5: 13. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) s. enantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
[407]. Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi, fenomena yang terjadi di dalam pemahaman pemimpin islam saat ini adalah dengan menafsirkan ayat Allah sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan politis mereka.
Bagaimana mungkin mereka berharap menjadi mayoritas di Parlemen, sedangkan hanya sedikit saja diantara Rakyat Republik ini yang berharap terhadap kebenaran Islam dalam dunia politik. Dan ketika diantara mereka (pemimpin Islam) menduduki parlemen atau di eksekutif sekalipun baik di tingkat nasional maupun daerah, mereka pada akhirnya hanya mampu mengikuti syariat yang ada (syariat Thoghut) bukan merubahnya secara radikal (sekali lagi, hal ini bertentangan dengan Pancasila yang pro sekulerisme, atau hal yang klise, mereka kalah suara), bahkan diantara mereka ternyata tidak jauh dari pemimpin republic lainnya yang dzalim, mereka kedapatan melakukan korupsi dan manipulasi (bagaimana mereka terjerat oleh system informal thoghut yang dzalim, yang menjadikan mereka terbawa dzalim pula).
III Islam Menang Melalui Revolusi Budaya
(Mengkritisi Distorsi Ideologi Gerakan di kalangan sebagian Pemimpin NII dan sebagian pengikutnya)
Revolusi Budaya muncul sebagai icon kebijakan politik di kalangan sebagian pemimpin NII setelah gagalnya Reformasi di Republik berjalan menuju Revolusi Fisik pada tahun 1999. Revolusi Budaya adalah sebuah istilah terbaru dari kalangan NII yang masih mengacu kepada jargon politik lama yang disebut Masa Hudaibiah. Masa dimana (menurut istilah mereka sebagian pemimpin NII) Peperangan dengan Republik harus dihentikan (yang berarti berhentinya Revolusi) hingga futuhat (dikuasainya Republik) akan berjalan tanpa pertumpahan darah (Tanpa Peperangan/Tanpa Revolusi).
Baik Revolusi Budaya maupun Masa Hudaibiyah mempunyai cirri khas yang sama. Dua duanya menolak Jihad Fii Sabilillah (Qital/Revolusi). Dua duanya dimunculkan untuk melegitimasi penyatuan para Pemimpin NII dengan Republik (yang seharusnya diperangi). Yang sedikit membedakan keduanya adalah saat istilah Hudaibiah dimunculkan mereka (para Pemimpin NII) dalam kondisi dipaksa oleh Republik untuk menyerah dan menandatangani pernyataan telah kembali loyal ke Negara Pancasila. Sedangkan istilah Revolusi Budaya muncul justru dalam kondisi tanpa ada paksaan siapapun, saat para Mujahid telah kembali dari I’dad di Afganistan (yang berarti telah mumpuni secara skill untuk melakukan Qital/Revolusi fisik) disaat Republik justru dalam keadaan morat-marit paska konflik horizontal (antar etnis dan agama) dan vertical (antara rakyat dan pemimpinnya). Hingga mencabut struktur sapta palagan (struktur Negara disaat siap menghadapi kondisi perang semesta/Revolusi total) untuk lebih melancarkan manifesto politik ini (Revolusi Budaya).
Revolusi Budaya jelas sebuah manifesto politik yang dipaksakan. Menyalahi Sunnah, dan tidak masuk akal. Sebuah perubahan Budaya atau culture tidak bisa dilepaskan dengan kebijakan social politis sebuah Negara. Islam sendiri memandang budaya hanyalah sebagai produk akal budi manusia yang justru harus muncul sebagai fasilitas ibadah. Baik secara personal maupun social masyarakat. Budaya sendiri muncul sebagai salah satu produk akselerasi kebijakan-kebijakan social politis, saat eksistensi politik itu sendiri telah muncul dan membentuk kebijakan-kebijakan publik. Contoh kasus adalah Revolusi Budaya yang ada di Cina, saat Negeri tertutup ini kemudian membukakan diri dengan dunia internasional, para Pemimpin Negeri ini kemudian membuat kebijakan revolusioner didalam negerinya sendiri dalam keterbukaan ekonomi dan budaya.
Jika sebagian para Pemimpin NII ini kemudian berharap terjadi perubahan budaya sekuler menjadi budaya islam tanpa merubah kekuatan politik (yang saat ini dikuasai oleh Republik yang jelas-jelas sekuler), harapan ini akan menjadi harapan yang sia-sia. Bahkan seandainya terjadi sebuah keajaiban dimana Revolusi Budaya ini berjalan dengan sukses, akan tetapi eksistensi kekuatan politik yang dimiliki oleh Republik tidak berubah, maka jadilah islam hanya sebagai produk tontonan penikmat dunia, hanya mendapatkan rangka dan kulit luarnya saja, tanpa eksistensi politik dan hukum yang merupakan ruh dari ideology islam itu sendiri (seperti yang dicontohkan Rosulullah di Madinah).
Tapi kemudian opsi lain muncul. Dimana Revolusi Budaya diharapkan mampu merubah pandangan politik (ideology politik). Atau Revolusi Budaya diharapkan mampu merubah kebijakan-kebijakan politik. Jawabannya mungkin bisa. Dengan suatu syarat yang tidak mungkin bisa dipertanggung jawaban bagi seorang pimpinan NII. Yaitu melalui penetrasi politik lewat berbagai lembaga eksekutif dan legislative di setiap tingkatan strata politik, dari mulai pusat hingga daerah. Berarti dia harus melakukan politik koorperasi dengan Thoghut. Sebuah kebijakan politik yang sangat diharamkan bagi pimpinan NII, bekerja sama dalam membuat kebijakan public dengan Thoghut memakai system Thoghut. Maka jika ada pemimpin yang melakukan demikian, seyogiannya dia harus menanggalkan seluruh atribut TII (Tentara Islam Indonesia) dan segera berbaiat kepada Pancasila. Dan tetaplah dia sebagai pemimpin Republik dan mempertahankan negaranya itu (Republik) hingga suatu saat berhadapan dengan TII pada saat Revolusi nanti.
Revolusi Budaya adalah virus ganas bagi Revolusi itu sendiri. Revolusi Budaya mampu menjadikan seorang Mujahid TII yang sekian lama melakukan I’dad menjadi tumpul karena ilmunya tidak akan pernah lagi terpakai. Revolusi Budaya sudah mengeluarkan seorang TII keluar dari Ideologi Gerakan (Jihad Fii Sabilillah) yang seharusnya direalisasikan hingga Republik dihancurkan. Warga NII harus segera memahami efek politis dari Revolusi Budaya, sebelum kemudian Jargon Politik ini menghancur luluh lantak-an NII yang saat ini siap melaksanakan Revolusi yang sebenarnya. Dan warga NII harus segera sadar, bahwa Revolusi Budaya ini tidak akan membawa Islam kepada Kemenangan seperti yang telah dicontohkan Rosulullah di Madinah. Revolusi Budaya terbukti menjadikan TII ter eliminasi dalam kancah Jihad di Indonesia karena telah di Demiliterisasikan secara sistematis.