Minggu, 27 Februari 2011

Harapan Yang Tidak Mungkin I



Harapan Yang Tidak Mungkin (Bagian I)

(Melanggar Syariat Berharap Kemenangan)

Prolog

Al Qur’an, Az Zumar : 2-3
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.


Hampir seluruh muslim yang taat ketika ditanyakan tentang suatu aktifitas yang sedang dijalaninya maka jawaban yang paling popular adalah bahwa aktifitas tersebut dalam rangka ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana sebenarnya sebuah aktifitas itu akan dinilai sebuah ibadah dimata Allah? Maka jika kita menyimak ayat diatas, Allah memerintahkan kepada kita agar memurnikan setiap ibadah kita (dari mulai niat karena Allah, Ibadah sesuai aturan Allah, dalam rangka menuju hanya kepada Allah). Hal inilah yang membedakan antara Islam dengan agama lainnya. Bahwa hanya Islam lah sebuah agama yang terlepas dari hal Syirik, sebuah agama yang bersih terbebas dari pengabdian ganda (lebih dari satu). Sebuah loyalitas tunggal, hanya kepada Allah ta’ala.


Islam adalah sebuah agama yang komprehensif, seluruh aspek yang berhubungan dengan manusia diatur secara tersirat/tersurat didalam Kitabullah dan Sunnaturrosul. Baik seorang muslim tersebut dipandang secara individu, atau secara social, terlebih sebagai bagian dari komunitas politik yang bersentuhan dengan Hukum, Ekonomi, Kultur Sosial, dan Politik itu sendiri (kepemimpinan ke-negara-an dalam hubungannya dengan rakyat berbagai etnis dan agama serta antar Negara). Dalam hal ini pengabdian seorang muslim terhadap Allah setiap saat dimanapun tempatnya, apapun posisinya, bagaimanapun kondisinya, tetaplah harus berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnaturrosul. Maka jika dalam perjalanan pengabdiannya itu terlepas dari keduanya (Kitabullah dan Sunnaturrosul) saat itu pula dia terlepas dari Buhul Allah (ikatan yang kuat antara dirinya dengan Allah). Kesimpulan dari kemurnian pengabdian kepada Allah ini adalah : Seorang Muslim dapat dinilai oleh Allah sebagai Abdinya jika dia melaksanakan perjalanan pengabdiannya dengan niatnya yang bersih untuk Allah ta’ala, melaksanakannya sesuai dengan syariat (baik secara individu, masyarakat, dan Negara), dalam rangka menegakan kalimat Allah (Li I’ la i’ Kalimatillah), hanya untuk tujuannya mendapatkan Ridho Allah (Mardhotillah). Minallah-Billah-Ilallah.


QS.3:101. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

QS.4: 146. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

QS.4: 175. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.



Meninggikan Kalimatullah Menegakan Dienul Islam

QS.42:24. Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah". Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur'an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

QS.14:24-24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

QS.6: 34. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.

Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah, niscaya mereka tetap berpaling). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.


Menegakan Kalimatullah (Kitabullah) merupakan tugas para Rosul. Sebagai utusan Allah dan pemberi kabar berita (dari Allah), para Rosul Allah (melalui Kitabullah) juga mengajak seluruh umat manusia untuk kembali mengabdi kepadaNya, membentuk komunitas yang penuh berekah dengan menegakan yang haq dan menghilangkan kebathilan (sebagai prasyarat komunitas yang damai dan sejahtera). Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah (Contoh/replica terbaik dalam penegakan Dien bagi manusia) Melakukan sebuah perubahan Revolusioner dalam tatanan kehidupan saat itu dari yang sebelumnya sebuah masyarakat yang penuh dengan kejahiliyahan (istilah dari sebuah kebudayaan yang ditata dengan tidak didasari oleh kitabullah) hingga akhirnya menjadi sebuah masyarakat yang tertata apik berdasarkan tatanan yang dirahmati Allah (tatanan yang didasari oleh kitabullah).

Dalam sebuah tatanan masyarakat atau lebih luas lagi adalah Tatanan Negara (kumpulan dari masyarakat yang terbentuk dalam satu system social politik) terdapat beberapa sub system yang sangat berpengaruh dalam setiap perubahan dan pembentukan tatanan tersebut, yang bisa dikatakan bahwa sub system inilah yang menjadikan tatanan tersebut terwujud. Yaitu Social cultural system (system social dan budaya) dimana atas dasar inilah dapat terbentuknya sebuah tatanan masyarakat dan Negara, adanya kehidupan bermasyarakat (hubungan social) yang dinamis. Yang kedua adalah Economic system (Sistem ekonomi) yang secara alamiah terbentuk dalam rangka life survival and needs (alat/media untuk mempertahankan hidup dan merealisasikan setiap kebutuhan dari yang dasar hingga kebutuhan untuk mengembangkan diri dan kekuasaan),

Yang ketiga political system (system politik termasuk hukum dan penegakannya) yaitu system kekuasaan, system yang melingkupi seluruh system yang ada, dapat dikatakan sebagai central of system (pusat dari segala system, ruh dari seluruh system yang ada). Sekumpulan manusia yang kemudian dapat membentuk sebuah masyarakat dikarenakan system politik yang ada, begitupula Negara yang terdiri dari kumpulan masyarakat yang didalamnya terdapat berbagai suku/etnis/trah. System kekuasaan ini harus dilengkapi ‘aturan main’ yang disebut Hukum. Hukum dibuat oleh politik (penguasa) untuk mengatur tatanan Negara yang didalamnya terdapat manusia dan alam dalam ruang lingkup territorial yang dikuasainya. Politik pula yang akhirnya menentukan dua sub system utama lainnya (social cultural system dan economic system) dalam hal aturan main dan penetapannya dalam areal hukum. Tidaklah mungkin akan muncul sebuah tatanan social dan ekonomi yang kemudian bertentangan dengan politik (penguasa), karena politiklah yang menetapkan keduanya.

Bagaimanakah kemudian politik itu muncul dalam mengawali system ketatanegaraan? Banyak diantaranya diawali oleh satu keluarga, kemudian membentuk satu suku, selanjutnya membentuk sebuah Negara. Negara selanjutnya melakukan ekspansi demi memenuhi kebutuhan rakyatnya. Memperbesar kekuasaanya membentuk sebuah komunitas Negara dalam satu kekuasaan (kekaisaran). Mereka membentuk sebuah system politik untuk mempertahankan kekuasaannya dengan dasar keyakinan dan ide, meski hukum dan sistemnya selalu berkembang bertambah rumit seiring dengan berkembangnya kekuasaan dan kompleksitas yang dikuasai (rakyat dan alam territorial) akan tetapi dasar pemikiran dari perkembangannya itu tidak pernah berubah, tidak akan keluar dari keyakinan dan ide awal dari pembentukan Negara tersebut, keyakinan dan ide inilah yang disebut Ideologi Politik. Dan Ideologi Politik itu sendiri didasari oleh Ideologi dasar dari para pendiri kekuasaan tersebut. Jika muncul dari Ide logika seseorang maka tetaplah akan kita sebut Ideologi. Akan tetapi jika Ideologi itu muncul dari para Nabi, maka Ideologi tersebut kita menyebutnya sebagai Ad Dien. Romawi dan Yunani adalah salah satu contoh bagaimana Ideologi politik muncul dari Ide logika manusia. Sedangkan Israel yang digagas oleh Nabi Musa AS adalah didasari oleh Ad Dien. Di Era klasik dua model tersebut dibatasi oleh ruang lingkup kesukuan, baik Romawi maupun Bani Israil. Rosulullah Muhammad SAW kemudian merombak seluruh tatanan klasik tersebut. Sebuah Revolusi pemahaman baru dalam peralihan dan pembentukan kekuasaan yang sebelumnya belum pernah ada. Tidak dibatasi lagi oleh kesukuan/etnis, seiring dengan perintah Allah SWT kepada Muhammad SAW dimana Islam harus dirisalahkan kepada umat manusia, maka Rosulullah SAW pun menetapkan kekuasaanya dengan tidak lagi dibatasi kesukuan tetapi kepada seluruh Umat. Dan efek dari paradigm teritorialpun mengikuti dari dasar perintah Allah tersebut.

Dalam era modern terjadi banyak perubahan radikal dalam pemikiran politik, dilandasi oleh munculnya areal kekuasaan baru yang menjadi lahan investasi baru dan munculah ideology politik kontemporer, diawali oleh Amerika Utara yang memunculkan Negara dengan bentuk menjiplak masa Romawi Kuno yaitu Republik. Dan paska Revolusi Rusia yang kemudian memunculkan Ideologi Politik Komunis.

Sebuah perubahan Radikal baik yang dilakukan oleh Rosulullah SAW, Amerika Serikat, Rusia, Cina. Mempunyai persamaan target dan tujuan, yaitu perubahan total ideology yang berkuasa sebelumnya karena dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan ideology baru mereka.

Islam yang pada dasarnya adalah sama dengan ideology (sebagai pandangan hidup) tidaklah mungkin mampu melakukan perubahan sistem hukum, system ekonomi, ataupun social kultur. Tanpa harus merubah system politik terlebih dahulu, system politik tidak lah mungkin berubah secara signifikan sesuai dengan yang dikehendaki (dalam hal ini Islam) kecuali kita murubah ideology politik terlebih dahulu. Dan Ideologi politik yang merupakan manifest kekuasaan dari ideology dasar, ditentukan oleh pandangan dan keyakinan ideologinya itu sendiri. Apa yang telah terjadi dalam setiap Revolusi mempunyai tujuan yang sama, sebuah perubahan radikal dan foundamental dalam kekuasan (politik) dengan ideology yang berbeda dari sebelumnya. Revolusi Islam yang dimotori oleh Rosulullah SAW adalah demikian adanya. Sebuah beban yang berbeda dibandingkan dengan nabi-nabi terdahulu, Muhammad SAW (sebagai Nabi dan Rosul terakhir) diperintahkan menyampaikan risalah ke seluruh umat manusia di Bumi ini. Tugas yang sangat berat ini tidaklah mungkin direalisasikan tanpa mempunyai kekuatan. Dan inti dari kekuatan itu adalah kekuasaan (politik). Apa yang dilakukan oleh Rosulullah SAW di Mekah adalah dakwah untuk merekruit inti kekuatan, ketika inti kekuatan tersebut diprediksi tidak memungkinkan untuk menguasai Mekah, maka Rosulullah mencari dukungan lain yang lebih kondusif untuk dikuasai, dan Yastriblah beserta sebagian penduduknya yang sesuai untuk kriteria itu. Mekah yang merupakan central politik di Hijaz menjadi target berikutnya setelah basis kekuatan di Yastrib (Madinah) termobilisasi dengan baik. Maka paska Futuhat Mekah dimulailah ekspansi kekuatan dalam rangka menancapkan eksistensi Hukum Allah dimuka Bumi ini.

*

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Ketika kami sedang berada di mesjid, datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami dan bersabda: Marilah kita berangkat menemui orang-orang Yahudi. Maka kami pun berangkat bersama beliau hingga tibalah kami di daerah mereka. Lalu Rasulullah saw. berdiri dan berseru: Wahai orang-orang Yahudi! Masuk Islamlah niscaya kamu akan selamat! Mereka menjawab: Kamu telah menyampaikan hal itu, wahai Abul Qasim! Rasulullah saw. berkata lagi kepada mereka: Itulah yang aku inginkan. Masuk Islamlah niscaya kamu akan selamat! Mereka menjawab lagi: Kamu sudah menyampaikan hal itu, wahai Abul Qasim! Rasulullah saw. menjawab: Itulah yang aku inginkan. Lalu Rasulullah mengajak mereka untuk ketiga kali kemudian bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya bumi ini milik Allah dan Rasul-Nya. Dan sesungguhnya aku ingin mengusir kamu sekalian dari bumi ini, maka barang siapa di antara kamu masih memiliki harta kekayaan apapun, hendaklah ia jual. Kalau tidak, maka ketahuilah bahwa bumi ini hanya milik Allah dan utusan-Nya. (Shahih Muslim No.3311)
*

Hadits ke-11 dari Kitab Jihad Bulughul Maram.
Dari Sulaiman Ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam jika mengangkat komandan tentara atau angkatan perang, beliau memberikan wasiat khusus agar bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau bersabda: "Berperanglah atas nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan berkhianat, jangan mengingkari janji, jangan memotong anggota badan, jangan membunuh anak-anak. Jika engkau bertemu musuhmu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada tiga hal. Bila mereka menerima salah satu dari ajakanmu itu, terimalah dan jangan apa-apakan mereka, yaitu: ajaklah mereka memeluk agama Islam, jika mereka mau, terimalah keislaman mereka; kemudian ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin, jika mereka menolak, katakanlah pada mereka bahwa mereka seperti orang-orang Arab Badui yang masuk Islam, mereka tidak akan memperoleh apa-apa dari harta rampasan perang dan fai' (harta rampasan tanpa peperangan), kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Bila mereka menolak (masuk Islam), mintalah mereka agar membayar upeti. Jika mereka menyetujui, terimalah hal itu dari mereka. Lalu, bila mereka menolak, mintalah perlindungan kepada Allah dan perangilah mereka. Apabila engkau mengepung penduduk yang berada dalam benteng dan mereka mau menyerah jika engkau memberikan kepada mereka tanggungan Allah dan Rasul-Nya, maka jangan engkau lakukan, namun berilah tanggungan kepada mereka. Karena sesungguhnya jika engkau mengurungkan tanggunganmu adalah lebih ringan daripada engkau mengurungkan tanggungan Allah. Apabila mereka menginginkan engkau memberikan keamanan atas mereka berdasarkan hukum Allah, jangan engkau lakukan. Tetapi lakukanlah atas kebijaksanaanmu sendiri, karena engkau tidak tahu, apakah engkau tepat dengan hukum Allah atau tidak dalam menetapkan hukum kepada mereka." Riwayat Muslim.


Rosulullah SAW sebagai uswatun hasanah (contoh terbaik dalam hal apapun, dari sudut pandang manapun, dari berbagai dimensi, dalam hal kehidupan di dunia, untuk umat manusia, apapun agama dan keyakinan ideologinya) memperlihatkan kepada kita umat yang mempercayainya sebagai sumber petunjuk yang benar. Bahwa Islam dan Politik tidaklah mungkin terpisahkan. Islam sebagai ajaran komprehensif (satu-satunya syariat yang disempurnakan langsung oleh Allah) masuk kedalam setiap jengkal sendi kehidupan manusia, apapun kondisinya. Tidak mengenal zaman, karena sifat natural/alamiah dari setiap syariat/hukum/aturan yang telah ditatapkannya. Keadilan dan kebijaksanaan yang tertuang didalam Kitabullah (Al Qur’an) adalah bersifat hakiki (kebenaran yang sempurna sesuai kodrat manusia dan alam). Melaksanakannya adalah sebuah Perintah yang Mutlak untuk dilaksanakan bagi manusia yang yakin akan Allah sebagai Supreme of Law (Yang Tertinggi, satu satunya yang mempunyai hukum, mempunyai hak menentukan aturan, Al A’la, Al Hakim, Al Hakam). Dan Kitabullah ini tidaklah mungkin terealisasi secara sempurna kecuali melalui jalur kekuasaan/politik. Dan bagaimana Islam ini memasuki dimensi politik, Rosulullah SAW lah yang kemudian memperlihatkan kepada kita bagaimana seharusnya gerakan ini dilaksanakan, sebuah gerakan revolusioner terbaik sepanjang masa. Beliau melakukannya melalui beberapa tahap revolusi. Akan tetapi secara garis besar beberapa tahapan tersebut merujuk kepada tiga masa yang berbeda. Diantaranya :

  1. Masa Revolusi di Mekah (Revolusi Ideologi). Rosulullah melaksanakannya hanya 13 tahun, dari mulai recruitment, pengkaderan/kaderisasi, mobilisasi massa kader dan Demontrasi (mengungkapkan ideology secara terbuka secara bersamaan oleh seluruh kader), ekspansi dakwah (membentuk jaringan baru diluar kota Mekah). Sebuah perubahan radikal dan foundamental dalam pemahaman dan keyakinan. Rosulullah mengembalikan personal ideology dari orang mekah yang semerawut kepada Tauhid. Hingga akhirnya Rosulullah mampu membentuk sebuah komunitas baru tanpa dibatasi etnis dan strata social. Dengan satu keyakinan yang sama, Tauhid.
  2. Massa Revolusi di Madinah (Revolusi Politik) . Pada dasarnya Rosulullah mempersiapkan Madinah sejak Rosulullah masih berada di Mekah. Dengan Mengutus Mus’ab bin Umair dan beberapa sahabat lainnya paska perjanjian Aqobah I (dalam pembentukan jaringan baru diluar Mekah). Kemudian ternyata Yastrib (Nama Kota Madinah sebelum dikuasai Rosulullah) merupakan kota yang paling kondusif diantara kota lainnya yang dipersiapkan (Yaman, Tho’if, Syam, Habsyi). Rosulullah kemudian membentuk jaringan yang kuat dari dua suku utama di Yastrib, Aus dan Khajraz. Hingga akhirnya diikat dalam satu kepemimpinan dibawah kekuasaan Rosulullah dalam peristiwa Aqobah II. Dari sanalah Revolusi di Madinah dimulai. Rekruitment, Kaderisasi, persiapan Logistik, dan dipercepat serta diperluas paska Hijrah. Membentuk Komunitas yang solid dengan mempersatukan Muhajirin dan Ansor. Depolitisasi seluruh kekuasaan yang ada selain kekuasaan Islam dengan menggunakan Piagam Madinah. Militerisasi seluruh umat dengan perintah I’dad yang diwajibkan. Dan mulai melakukan sariyah-sariyah untuk memblokade Mekah secara ekonomi, mempersempit kekuatan politik Mekah dengan menjadikan sekutu beberapa kabilah Arab Badui meski belum masuk Islam. Hingga akhirnya melakukan Military Force (Qital/Perang) untuk menekan Mekah dan akhirnya Mekah mampu dikuasai secara utuh.
  3. Masa Revolusi Ekspansi (Internasionalisme Ideologi). Revolusi terakhir ini dalam rangka memperluas kekuasaan Islam demi tersebarnya keadilan alQur’an untuk seluruh umat manusia baik yang meyakininya (muslim) maupun yang tidak (non muslim) dibawah panji kedaulatan kitabullah. Rosulullah melakukannya dengan tiga pendekatan. Pertama membentuk aliansi politik dengan Negara/kaum yang tidak masuk islam akan tetapi siap membayar jizyah. Kedua , Memasukan langsung kedalam kekuasaan Islam jika Negara tersebut siap menganut ajaran Islam. Atau yang ketiga, memeranginya hingga tunduk kepada kekuasaan Islam jika pemimpinnya menolak kedua criteria diatas.

Ideologi Gerakan dari Rosulullah jelas Revolusioner. Merombak secara radikal dan foundamental seluruh tatanan politik, ekonomi, social cultural, dan hukum tentunya. Akan tetapi Revolusi tersebut dapat terjadi secara kaffah (keseluruhan) paska Rosulullah memegang kekuasaan penuh di Madinah dan menyempurnakannya di Mekah. Sehingga dapat dikatakan, tidaklah mungkin kesempurnaan Islam itu dapat terealisasi sebelum kekuasaan politik dikuasai secara utuh.

Dalam gerakan Revolusioner-nya Rosulullah, tidaklah pernah Beliau melunak dengan bersikap kooperatif dengan kekuasaan yang ada, baik ketika di Mekah maupun setelah Hijarah di Madinah. Peringatan keras malah muncul dari Allah melalui ayat-ayat Al Qur’an ketika kecenderungan itu muncul dari pengikut Beliau.

QS. 4:140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam

Saat di Mekah, Rosulullah ditawari untuk memimpin Darun Nadwah (Lembaga Perwakilan seluruh keluarga di Mekah), tanpa harus menghentikan Dakwah Islam dengan syarat memberikan ‘pembenaran’ terhadap tuhan-tuhan orang Mekah yang ada di Ka’bah hanya dengan mengusap Hubal (patung berbentuk burung Garuda) pada saat Thawaf. Rosulullah menolaknya.

Maka, apakah mungkin suatu hal menjadi sebuah pembenaran ketika sebuah ‘harapan’ kemudian muncul pada diri segelintir umat islam (ulama/pemimpin islam) jika ‘harapan’ itu ternyata diluar jalur apa yang pernah dilakukan Rosulullah? Apakah mungkin, sebuah harapan akan menjadi sebuah ibadah (pengabdian kepada Allah) jika manifestasi dari harapan ini ternyata keluar dari syariat yang telah ditentukan oleh Allah SWT atau yang telah dicontohkan oleh seorang replica yang sengaja telah diciptakan oleh Allah Ta’ala bagi kita penerusnya (Rosulullah SAW)?

Sungguh…. Sebuah harapan yang sia-sia….

Sabtu, 26 Juni 2010

Harapan Yang Tidak Mungkin II





Harapan Yang Tidak Mungkin (Bagian II)

(Manifesto Ideologi Hampa)



Al Qur’an Surat ke 4. An Nisaa'

120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

Jika seorang manusia sudah merasa establish (serba cukup, serba mapan), syaitan akan datang membuat kalalaian untuk tetap stagnan. Secara naluri selalu menghindari friksi dan konflik, serta sedikit oportunis. Bagaimana syaitan memberikan kelalaian pada manusia seperti ini, dia memberikan janji dengan hembusan bisikan yang penuh angan-angan, dan yang paling berbahaya dalam kondisi ini adalah, bahwa mereka demi mempertahankan area rasa amannya itu, mereka membaurkannya. Menyampuradukan yang haq dengan yang batil, melalui tafsir-tafsir kontemporer yang keluar dari pemahaman Rosulullah, para Sahabat, atau para Tabi’in.
Paradigma yang paling rusak dan menghancurkan seluruh sendi-sendi syariat keislaman adalah pemahaman tentang pemisahan ideology gerakan dan ideology politik didalam aqidah. Dimana didalam manifesto aqidah tidak terdapat apa yang disebut manifesto gerakan dan manifesto politik. Memisahkan antara Islam dan Politik. Memisahkan antara Islam dan Gerakan Perubahan. Memisahkan antara Islam dan Hukum. Memisahkan antara Islam dan Negara.
Akan terlepas (kelak) ikatan (kekuatan) Islam, ikatan demi ikatan. Setiap kali terlepas satu ikatan maka orang-orang akan berpegangan kepada yang lainnya. Yang pertama kali terlepas ialah hukum dan yang terakhir adalah shalat. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Terdapat tiga pemahaman manifesto dari ideology gerakan yang mempunyai paradigm keluar dari ideologi gerakan Rosulullah. Para penganutnya mempunyai keyakinan hampa dengan tidak mempunyai target Revolusioner. Meskipun secara logika politik mereka jelas tidak akan mencapai kemenangan, akan tetapi dengan menggadaikan beberapa ayat yang ditafsirkan dengan sedikit pemaksaan, mereka merasa nyaman didalam keyakinannya. Diantaranya adalah :

I Islam Menang Hanya Dengan Dakwah
(Mengkritisi Ormas-ormas Islam Republik dan Harokah non Politik)

Dakwah dan al Haq (Islam) adalah sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan. Tidak akan mungkin muncul komunitas yang meyakini Tauhid (Islam) tanpa ada seseorang yang melakukan tugas ini. Tidak ada satu Rusul pun yang tidak berdakwah, begitu pula Rosulullah Muhammad dan para pelanjutnya. Tetapi kemudian muncul keyakinan bahwa hanya dengan berdakwah Islam akan menang? Keyakinan seperti ini sudah masuk pada katagori berangan-angan. Keyakinan ini sudah keluar dari ranah syariat. Keyakinan ini sudah tidak logis dan tidak mungkin terealisasi.

Islam adalah The Way of Life, Jalan Hidup, dengan kata lain Ideologi (bedanya jika ideology biasanya muncul dari idea sesorang/manusia, sedangkan Islam adalah sebuah idea yang muncul dari Yang Maha Benar/al Haq). Allah mengistilahkan didalam Al Qur’an sebagai Ad Dien. Ad Dien merupakan sebuah keyakinan, Metodologi dari keyakinan tersebut, hingga bagaimana aplikasi dari keyakinan tadi. Aplikasi dari Ad Dien atau dengan istilah lainnya adalah manifesto ideology tidak akan selamanya mampu dilaksanakan oleh setiap muslim, dan kalau ternyata mampu dilaksanakan, belum tentu pelaksanaanya berjalan dengan benar. Rosulullah SAW diutus oleh Allah bukan hanya sebagai penyampai risalahnya saja, tapi juga sebagai Khalifah fii al Ard. Sebagai perwakilan kekuasaan Allah di Bumi, sehingga pada akhirnya Rosulullah mempersiapkan Yastrib untuk dijadikan Madinah, sebuah Negara Islam pertama di Bumi. Karena di Madinah lah Islam mampu mewujudkan Ad Dien secara Kaffah. Di Madinah lah pada akhirnya Islam bukan hanya sebagai keyakinan individual, tapi juga sebagai Political System yang mempunyai kekuatan mewujudkan keadilan Allah di muka bumi ini. Rosulullah di Madinah bukan hanya sebagai penyampai Risalah, tapi juga sebagai Penjaga Syariat Allah agar senantiasa Hukum-hukum Allah ini menjadi pelindung bagi umat manusia dalam setiap kehidupannya.

QS. 9: 112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Dakwah hanyalah salah satu fungsi bagi seorang muslim dalam melaksanakan Ad Dien (sebagai penyampai risalah Allah) agar dikenal oleh manusia-manusia Jahiliyah (yang belum memahami Islam). Akan tetapi Dakwah tidak mempunyai kekuatan (powerless) untuk menegakan Ad Dien. Meskipun melalui Dakwah seluruh makhluk di Bumi ini baik Jin maupun Manusia kemudian memahami Ad Dien al Islam. Akan tetapi Islam belumlah muncul sebagai Ad Dien. Karena Ad Dien mampu menjadi tegak, hanyalah melalui kekuasaan (memfungsikan potensi manusia sebagai Khalifah fii al Ard), melalui kekuatan yang nyata.

QS. 42: 13. Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

QS. 8: 39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah[611] dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah[612]. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan
[611]. Maksudnya: gangguan-gangguan terhadap umat Islam dan agama Islam.
[612]. Maksudnya: Menurut An-Nasafi dan Al-Maraghi, tegaknya agama Islam dan sirnanya agama-agama yang batil.


Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Isma'il bin Samurah], telah memberitakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] dari [`Asy'ats bin Sa'id] dari [Abdullah bin Busr] dari [Abu Rasyid] dari ['Ali], ia berkata; "Di tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tergenggam busur panah buatan orang Arab, kemudian beliau melihat seorang lelaki ditangannya busur panah buatan orang Persia, maka beliau bersabda: "Apa ini, lemparkanlah, dan kalian harus dengan yang ini dan yang serupa dengannya dan tombak-tombak yang bertangkai, karena dengan keduanya Allah akan menambah kekuatan kalian didalam menegakan agama dan menguasakan kepada kalian negeri-negeri." (HR Ibu Majah)

Keterangan: didalam hadits diatas Rosulullah menyatakan bahwa kekuatan (militer) dipergunakan untuk menegakan Dien.

Seandainya dengan mendirikan Ormas (Organisasi Massa) atau Yayasan Dakwah atau Lembaga-lembaga Dakwah lainnya berharap Islam akan tegak di Bumi Indonesia, mereka jelas sedang bermimpi dan dilalaikan oleh Syaitan. Mereka sedang mengejar Fatamorgana. Dan seandainya para ulama dan kader-kadernya berfikir bahwa Dakwah adalah sebagai hasil akhir dari Ibadah mereka sebagai penerus para Nabi. Mereka pada dasarnya sedang dibuai oleh penyakit yang paling berbahaya. Mereka sedang terkena wabah Wahn (Cinta Dunia dan Takut Mati). Mereka yang memahami betul ayat-ayat Allah, memahami betul Sirah Nubuwah, dan memahami betul resiko dalam meneruskan perjuangan para Nabi, mereka menolak resiko itu. Resiko dicampakan, disakiti, diboikot, dianiaya, difitnah, atau dibunuh. Mereka lebih memilih untuk menjadi pengikut artis-artis podium yang menikmati tepuk tangan dan decak kagum para audience, mereka menikmati lembaran kertas sebagai hasil dari menjual ayat-ayat Allah yang suci, mereka menjadi selebritis di tv-tv, dan para santri menjadikan mereka idola dan berharap menjadi penerusnya. Apakah Ad Dien akan tegak meski ribuan ayat telah mereka lantunkan? Jangan pernah berharap.


II Islam Menang Lewat Parpol dan Pemilu
(Mengkritisi gerakan-gerakan islam yang berkooperasi dengan Thoghut melalui Partai Politik)


QS.53. An Najm

23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.
24. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?
25. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.

Ayat-ayat diatas adalah ayat yang dinyatakan oleh Allah untuk musyrikin Qurais yang membuat syariat baru selain syariat yang diajarkan oleh Ibrahim tentang Islam. Orang Qurais membuat keyakinan baru (dengan dimunculkannya Latta, Uzza, dan Mannah) yang pada dasarnya adalah dibuat oleh hawa nafsu segelintir pemimpin-pemimpin mereka di masa lalu berdasarkan logika dan syak prasangka tak berdasar (atau meskipun mereka menyatakannya berdasarkan sesuatu, tetapi sesuatu itu tetap berasal dari syak prasangka sebelumnya, dan begitu seterusnya, tanpa ilmu yang haq dari Allah melalui Kitabullah atau SunaturRosul).

Allah menghina mereka dengan ‘halus’ melalui pertanyaan; “apakah manusia (yang bermain diatas logika dan syak prasangka) akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” apa yang dicita-citakan manusia-manusia tersebut? Mereka berharap kemenangan, berharap keselamatan umat, berharap keadilan dan kesejahteraan untuk rakyatnya. Dan bagi rakyat (yang mempunyai keyakinan seperti itu), harapan itu semua dilimpahkan untuk dirinya sendiri. Sebuah harapan menuju kemenangan di Dunia hingga Akhirat, menuju kebahagiaan di Dunia juga di Akhirat. Sekali lagi ditegaskan pada ayat tersebut “ apakah akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” tanpa berjalan diatas Fii Sabilillah, tanpa jalan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah, dengan mencampurkan syariat Ibrahim dengan syariat Syak Prasangka?
Allah menjawab sendiri pertanyaan yang tidak perlu jawaban tadi pada ayat berikutnya, “hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia”, Allah menjawab “tidak”, dengan kalimat pamungkas, kalimat yang menyatakan bahwa hanya syariat Allah saja lah yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang dicita-citakan secara naluri/alamiah yang muncul dari dalam diri kita secara fitrah, kehidupan bahagia di Dunia dan Akhirat.
Begitupulah sebuah Negara yang dibangun berdasarkan Logika dan Syak Prasangka (Ideologi ciptaan Manusia) meski dengan mencampurkan syariat Allah didalamnya, tapi kemudian mengkotorinya dengan akal budi manusia yang menyertakan hawa nafsu didalamnya, Negara tersebut tidak mungkin membawa rakyatnya kepada Mardhotillah. Dan ketika segelintir Pemimpin Islam dan Para Ulama menyatukan diri di dalamnya, mereka pada dasarnya terbawa kepada system jahil yang akan mengikat diri mereka seperti laba-laba membuat rumah,
QS. 29: 41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Mereka membentuk Partai Politik mencoba berlindung (dengan maksud memudahkan perjuangan Islam) dalam Negara Syak Prasangka yang didalamnya pada dasarnya tidak pantas untuk dimintai perlindungan, karena lemah, karena penuh dengan muslihat, penuh dengan kebijakan ganda, penuh dengan ketidak jelasan (mencampur adukan haq dan bathil), mereka (partai politik islam) telah merasa aman di jalurnya, dan merasa bahwa dengan menduduki parlemen melalui kemenangan partai mereka lewat pemilu berarti kemenangan Islam telah semakin dekat, kemenangan tinggal sejengkal lagi. Sungguh mereka telah menghabiskan infaq pengikut mereka hanya untuk ibadah yang sia-sia, mengabdikan diri kepada Thoghut (meski dengan alasan strategi dakwah) bersanding dengan mereka membuat kebijakan public, dan mereka berharap kemenangan dari itu semua? pemahaman mereka tidak jauh dengan musyrikin Qurais saat menggantungkan harapannya kepada Latta dan Uzza. Jauh panggang dari api. Harapan yang akan terputus ditengah jalan.

Hidup dari Infaq umat yang kemudian membawanya ke singgasana kekuasaan yang biasa diduduki para Fir’aun. Digaji dari Pajak dan Riba (keduanya diharamkan dalam Islam), ketika membuat undang-undang tidak satupun yang didasari Al Qur’an secara murni (karena bertentangan dengan Pancasila versi Soekarno yang sekuler), dan mereka tidak bakalan mampu merubah undang-undang yang bertentangan dengan Syariat Islam (karena pasti kalah suara dan bertentangan dengan Pancasila), kemudian mereka berharap setelah menemui kendala tersebut, berharap melalui harapan hampa, bahwa mereka akan menjadi Mayoritas di parlemen, kebodohan lainnya dari pemimpin Islam yang sudah genah di kursi empuk.

Dalam komunitas hipokrit di Republik, mereka layaknya seperti Bani Israil yang dengan sengaja menolak syariat Allah dengan berbagai alasan, kecuali sedikit diantara mereka,

QS. 5: 13. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) s. enantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
[407]. Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi, fenomena yang terjadi di dalam pemahaman pemimpin islam saat ini adalah dengan menafsirkan ayat Allah sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan politis mereka.

Bagaimana mungkin mereka berharap menjadi mayoritas di Parlemen, sedangkan hanya sedikit saja diantara Rakyat Republik ini yang berharap terhadap kebenaran Islam dalam dunia politik. Dan ketika diantara mereka (pemimpin Islam) menduduki parlemen atau di eksekutif sekalipun baik di tingkat nasional maupun daerah, mereka pada akhirnya hanya mampu mengikuti syariat yang ada (syariat Thoghut) bukan merubahnya secara radikal (sekali lagi, hal ini bertentangan dengan Pancasila yang pro sekulerisme, atau hal yang klise, mereka kalah suara), bahkan diantara mereka ternyata tidak jauh dari pemimpin republic lainnya yang dzalim, mereka kedapatan melakukan korupsi dan manipulasi (bagaimana mereka terjerat oleh system informal thoghut yang dzalim, yang menjadikan mereka terbawa dzalim pula).


III Islam Menang Melalui Revolusi Budaya
(Mengkritisi Distorsi Ideologi Gerakan di kalangan sebagian Pemimpin NII dan sebagian pengikutnya)

Revolusi Budaya muncul sebagai icon kebijakan politik di kalangan sebagian pemimpin NII setelah gagalnya Reformasi di Republik berjalan menuju Revolusi Fisik pada tahun 1999. Revolusi Budaya adalah sebuah istilah terbaru dari kalangan NII yang masih mengacu kepada jargon politik lama yang disebut Masa Hudaibiah. Masa dimana (menurut istilah mereka sebagian pemimpin NII) Peperangan dengan Republik harus dihentikan (yang berarti berhentinya Revolusi) hingga futuhat (dikuasainya Republik) akan berjalan tanpa pertumpahan darah (Tanpa Peperangan/Tanpa Revolusi).

Baik Revolusi Budaya maupun Masa Hudaibiyah mempunyai cirri khas yang sama. Dua duanya menolak Jihad Fii Sabilillah (Qital/Revolusi). Dua duanya dimunculkan untuk melegitimasi penyatuan para Pemimpin NII dengan Republik (yang seharusnya diperangi). Yang sedikit membedakan keduanya adalah saat istilah Hudaibiah dimunculkan mereka (para Pemimpin NII) dalam kondisi dipaksa oleh Republik untuk menyerah dan menandatangani pernyataan telah kembali loyal ke Negara Pancasila. Sedangkan istilah Revolusi Budaya muncul justru dalam kondisi tanpa ada paksaan siapapun, saat para Mujahid telah kembali dari I’dad di Afganistan (yang berarti telah mumpuni secara skill untuk melakukan Qital/Revolusi fisik) disaat Republik justru dalam keadaan morat-marit paska konflik horizontal (antar etnis dan agama) dan vertical (antara rakyat dan pemimpinnya). Hingga mencabut struktur sapta palagan (struktur Negara disaat siap menghadapi kondisi perang semesta/Revolusi total) untuk lebih melancarkan manifesto politik ini (Revolusi Budaya).

Revolusi Budaya jelas sebuah manifesto politik yang dipaksakan. Menyalahi Sunnah, dan tidak masuk akal. Sebuah perubahan Budaya atau culture tidak bisa dilepaskan dengan kebijakan social politis sebuah Negara. Islam sendiri memandang budaya hanyalah sebagai produk akal budi manusia yang justru harus muncul sebagai fasilitas ibadah. Baik secara personal maupun social masyarakat. Budaya sendiri muncul sebagai salah satu produk akselerasi kebijakan-kebijakan social politis, saat eksistensi politik itu sendiri telah muncul dan membentuk kebijakan-kebijakan publik. Contoh kasus adalah Revolusi Budaya yang ada di Cina, saat Negeri tertutup ini kemudian membukakan diri dengan dunia internasional, para Pemimpin Negeri ini kemudian membuat kebijakan revolusioner didalam negerinya sendiri dalam keterbukaan ekonomi dan budaya.

Jika sebagian para Pemimpin NII ini kemudian berharap terjadi perubahan budaya sekuler menjadi budaya islam tanpa merubah kekuatan politik (yang saat ini dikuasai oleh Republik yang jelas-jelas sekuler), harapan ini akan menjadi harapan yang sia-sia. Bahkan seandainya terjadi sebuah keajaiban dimana Revolusi Budaya ini berjalan dengan sukses, akan tetapi eksistensi kekuatan politik yang dimiliki oleh Republik tidak berubah, maka jadilah islam hanya sebagai produk tontonan penikmat dunia, hanya mendapatkan rangka dan kulit luarnya saja, tanpa eksistensi politik dan hukum yang merupakan ruh dari ideology islam itu sendiri (seperti yang dicontohkan Rosulullah di Madinah).

Tapi kemudian opsi lain muncul. Dimana Revolusi Budaya diharapkan mampu merubah pandangan politik (ideology politik). Atau Revolusi Budaya diharapkan mampu merubah kebijakan-kebijakan politik. Jawabannya mungkin bisa. Dengan suatu syarat yang tidak mungkin bisa dipertanggung jawaban bagi seorang pimpinan NII. Yaitu melalui penetrasi politik lewat berbagai lembaga eksekutif dan legislative di setiap tingkatan strata politik, dari mulai pusat hingga daerah. Berarti dia harus melakukan politik koorperasi dengan Thoghut. Sebuah kebijakan politik yang sangat diharamkan bagi pimpinan NII, bekerja sama dalam membuat kebijakan public dengan Thoghut memakai system Thoghut. Maka jika ada pemimpin yang melakukan demikian, seyogiannya dia harus menanggalkan seluruh atribut TII (Tentara Islam Indonesia) dan segera berbaiat kepada Pancasila. Dan tetaplah dia sebagai pemimpin Republik dan mempertahankan negaranya itu (Republik) hingga suatu saat berhadapan dengan TII pada saat Revolusi nanti.

Revolusi Budaya adalah virus ganas bagi Revolusi itu sendiri. Revolusi Budaya mampu menjadikan seorang Mujahid TII yang sekian lama melakukan I’dad menjadi tumpul karena ilmunya tidak akan pernah lagi terpakai. Revolusi Budaya sudah mengeluarkan seorang TII keluar dari Ideologi Gerakan (Jihad Fii Sabilillah) yang seharusnya direalisasikan hingga Republik dihancurkan. Warga NII harus segera memahami efek politis dari Revolusi Budaya, sebelum kemudian Jargon Politik ini menghancur luluh lantak-an NII yang saat ini siap melaksanakan Revolusi yang sebenarnya. Dan warga NII harus segera sadar, bahwa Revolusi Budaya ini tidak akan membawa Islam kepada Kemenangan seperti yang telah dicontohkan Rosulullah di Madinah. Revolusi Budaya terbukti menjadikan TII ter eliminasi dalam kancah Jihad di Indonesia karena telah di Demiliterisasikan secara sistematis.